Tuesday, April 11, 2017

Melintas Batas Garut-Pangalengan-Papandayan

Oleh: Deny Suwarja


Satu demi satu langkah, sepeda didorong dengan sisa tenaga yang benar-benar nyaris sudah habis. Dihantui kabut yang mengejar di lembah, hati makin ketar-ketir saat terdengar deru desah angin yang bertiup kencang. Beberapa kali langkah kaki terperosok ke dalam jalan yang berubah menjadi lubang dalam memanjang. Lebih dari tiga jam menapaki  punggung Gunung Papandayan. Waktu menunjukkan pukul 16.35 masih terjebak di hutan.  Hujan turun, kabut makin menebal, siap menerkam dengan jarak pandang kurang lebih hanya 5 meter. Garmin sesekali dilihat, untuk memastikan arah jalan yang benar. Sementara malam segera menjelang, membuat perasaan makin mencekam...
KGC Garut Mountaibike pada 12 Maret 2017, Hari Minggu kemarin memilih gowes adventure melalui rute Gunung Darajat-Puncak Cae-Cibeureum-Cisanti.  Jarak yang ditempuh menurut Garmin 93,7 km.    Perjalanan dimulai pukul 08.50 dari Gunung Gagak, Darajat.  Diawali turunan aspal hotmix sekitar 2 km yang berakhir di jalan tanah rusak cukup berat. Drastis. Jalan berubah jadi tanah yang becek. Licin, nyaris tidak bisa dilewati sepeda. Kondisi makin diperparah dengan tanjakan pendek tapi cukup curam.  Terpaksa sepeda dirayu untuk mau didorong.
Pukul 09.20 tiba di Puncak Cae, dijamu alam dengan pemandangan Bandung Selatan yang super cantik. Biru langit dengan usapan awan putih tipis, menambah kecantikan alam pagi itu. Nun jaun di bawah sana, bukit-bukit kecil yang dulu hijaunya barisan tanaman palawija. Tidak tahan melihat kecantikan sang bumi pertiwi.  Menyempatkan diri, untuk mengabadikan keindahan alam tersebut. Sejauh mata memandang, terbentang lukisan alam hijau ranaunya perbukitan.
Perjalanan dilanjut dengan melahap turunan curam tanah merah. Jalan walaupun lebar tapi karena banyaknya “pematang” dan “selokan” alami yang dibuat aliran air. Menjadikan kudu waspada, diperlukan kontrol  kemudi agar tidak terperosok. Beberapa kali berpapasan dengan para pengendara motor dari arah bawah, yerpaksa harus mendorong motornya dengan walaupun dihidupkan.  Turunan jalur tanah merah habis lebih kurang 2 km. Berganti dengan turunan beton di tengah perkampungan.  Sepeda bisa dipacu cukup kencang.  Dibarengi awasnya mata karena banyaknya anak-anak di sepanjang kampung yang dilewati.  Turunan yang relatif mulus sejauh 5 km, berakhir di sebuah jembatan kecil.  Tanjakan Darangdan, menghadang dengan penampilan bengis. Kecuramannya membuat hati ciut.    Mengingat perjalanan masih amat sangat jauh, untuk menghemat energi.  Kami berenam, lebih memilih untuk kembali menuntun sepeda. Kecuali Mang Ruhiat dan Mang Obang yang bisa khatam sampai di Jalan Raya Cibeureum!
Memulihkan stamina, di sebuah warung di pertigaan Cibeureum sambil minum kopi dan kudapan ringan.  Sepeda kembali dikayuh menikmat tanjakan relatif ringan berupa aspal hotmix mulus.  Cukup untuk hiburan setelah dihajar tanjakan Darangdan.  Sesekali berpapasan dengan rombongan sepeda Federal dan beberapa onroader yang dipastikan baru pulang dari Danau Cisanti yang berjarak 5 km dari pertigaan Cibeureum.
Mampir dan rehat di Situ Cisanti pukul 10.40. Membayar tiket Rp. 10.000 rupiah, sepeda bisa dibawa masuk ke dalam areal Situ.  Berfoto ria sepuasnya dengan background beningnya air Situ Cisanti dengan tulisan besar warna merah KM 0 CITARUM. Situ Cisanti seluas  7 hektare itu dikelilingi  perkebunan Talun Santosa, puncak Gunung Wayang, Windu, dan Gunung Rakutak. Udaranya dingin dan mudah berkabut. Di pagi hari, ketika matahari menyinari bagian tengah danau dan meninggalkan garis cahaya keemasan di rerumputan pinggir danau. Kabut tipis dan gulungan awan hitam memayungi hutan di punggung dan puncak gunung. 
Setelah puas menikmati keindahan dan keanggunan Situ Cisanti selama 20 menit. Rombongan balik kanan menuju perkebunan teh Kertasarie Santosa.
Ada Raisa di Santosa
Kawah Papandayan! Itulah yang mengingatkan kami untuk segera cabut dari Cisanti. Sepeda kembali dikayuh, mencumbu tanjakan landai nan panjang.  Tidak terasa melelahkan karena selain aspal hotmix mulus. Disepanjang jalan, mata dimanjakan  pemandangan yang super duper. Cantik! Secantik Raisa saat bersenandung lagu Terjebak Nostalgia. Benar-benar terjebak nostalgia. Saat melewati lautan permadani hijau, perkebunan teh Santosa.   Gunung Wayang, berselimut awan tipis yang menghiasi langit biru saat itu makin mempercantik dan keanggunan pesona perkebunan teh Santosa.  Terlebih tiba di pusat pabrik teh Kertasari. Tidak saja tubuh tiitup udara sejuk, tapi hati dan perasaan terasa seperti berbalik ke jaman penjajahan.   Semuanya, nyaris sempurna bernuansa semasa penjajahan Belanda.  Rumah-rumah eks Tuan Afdeling, masih dilestarikan di perkebunan nyaris belum berubah. Ciri khas bangunan  Eropa. Arsitektur gaya art Deco dengan tembok dinding putih tinggi, atap genting curam, dengan cerobong asap berdiri dengan anggunnya. 
Kaki kembali menginjak pedal, mencumbu jalan yang mulai sedikit berbatu. Tidak terlalu menyulitkan, karena rata-rata ban sepeda berukuran 2.35 sampai 2.50. Sekitar 2 kilometer kemudian. Tiba di warung nasi langganan di pertigaan Santosa-Sedep-Bandung. Kali ketiga  makan di warung nasi ini. Lumayan lengkap dan cukup untuk lidah orang Sunda. Ibu warung sudah mafhum dengan pesepeda.   Saat tiba, dengan raah dia mempersilakan untuk makan parasmanan. Bahkan, membekali kami dengan teh Santosa!
Pukul 12.30 saat akan menuju mesjid di bedeng Sedep. Tiba-tiba hujan cukup deras. Menepi, sambil berdoa agar hujan segera reda. Doa terkabulkan. Tidak sampai 10 menit hujan reda.  Energi yang sudah terisi, kembali memberikan semangat.  Semua berpacu menuju mesjid. Jalanan turun makadam ringan, lalu membelok dengan tanjakan di perbatasan Sedep. Dilahap tanpa omelan, berpacu menuju mesjid. Saat berwudhu, air yang menyentuh anggota wudhu seperti air es.  Wajah dan tubuh kembali terasa segar. Kemudia sholat berjamaah dijama taqdim Dhuhur dengan Asyar.
Perjalanan dilanjutkan menyusuri tanjakan demi tanjakan.  Jalan yang dilewati kondinya jauh berbeda, sewaktu kami melewatinya 3 tahun lalu. Sekarang nyaris semua rata dibeton. Mulus. Sehingga tanjakan yang panjang pun tidak lagi terasa melelahkan. Pemandangan tetap memikat, mata terus berputar menikmati pesona demi pesona yang ditampilkan lukisan alam.  Seorang teman kami bahkan berujar: “Seandainya ada yang menawar 10 juta sekalipun, pemandangan ini tidak akan saya jual!”
Kayuhan makin dipercepat saat mulai terlihat pertigaan Neglasari sebelum Cibutarua.  Suasananya jauh lebih “maju” dibanding tiga tahun lalu.  Terminal sederhana sudah mulai dibenahi. Lengkap dengan tukan tambal ban, warung nasi, warung baso dan warung kelontongan. Dari pertigaan ini jalan berubah menjadi makadam dan berakhir di monumen Cibutarua! Udara sejuk dan dingin, sepertinya membantu kondisi tubuh kami.  Tiba di warung terakhir, karena sesudahnya tidak ada warung lagi. Ranselpun dipenuhi dengan persediaan air dan kudapan ringan yang cukup banyak.  Mengingat tiga tahun lalu, di tengah hutan. Saking hausnya teman kami, sampai merelakan cincin batu yang dipakainya dengan sebotl air teh yang dibawa penyabit rumput!
Di warung sempat menjalin keakraban dengan anak-anak keluarga pemetik teh. Pakaian mereka masih sangat sederhana. Kusam, dekil bahkan sudah ada yang robek.  Kepala mereka tertutup peci hitam yang juga sudah pudar warnanya. Sarung dilendangkan pada masing-masing bahunya. Mereka berkerubung mengelilingi sepeda.  Sesekali menyentuhnya.  Sempat terjadi dialog menggelikan.  “Jang, pernah ka Papandayan teu?” Tanya saya.  “Pernah atuh, sering malahan. Deukeut atuh Pak teu sajam-sajam acan ka Papandayan mah!” jawab seorang anak.  “Hah? Nu bener? Naha, meni gancang euy!” Seru saya kaget. “Tuh tidieu oge katinggali atuh Papandayan mah!” Tunjuk seorang anak.  Kami jadi mesem-mesem sendiri. Ternyata yang dimaksud anak-anak itu kampung Papandayan. Bukan Kawah Papandayan! Kampung terakhir sebelum masuk ke perkebunan teh di punggung Papandayan!
Tanjakan makadam dengan batu-batu lepas di tengah perkebunan teh mulai memperlambat kayuhan. Bahkan, akhirnya dituntun karena tidak gowesable. Dua orang teman yang mencoba, memaksa gowes. Malah terpeleset dan terjatuh. Waktu menunjukkan pukul 14.50. Terlambat setengah jam untuk tiba di punggung gunung Papandayan! Kalkulasi rasional pun muncul di kepala. Bila sampai pukul 17 belum mencapai punggungan yang Papandayan.  Lebih baik putar balik.  Pulang lewat Bandung. Mengingat kabut tebal dan hujan yang bisa menjadi ancaman serius. 
Sepeda kembali dikayuh, menyusuri jalan khas perkebunan. Kiri kanan, tampak lubang dalam penuh air. Bekas dihajar ban truk yang membawa hasil palawija.  Praktis, harus mengambil jalan tengah. Itupun siswa tergerus oleh gardan mobil.  Kesejukan dan keindahan pesona perkebunan teh serta sejuknya udara, menambah semangat yang mulai memudar.  Untuk menambah semangat, sesekali berhenti mendokumentasikan pemandangan atau sekedar selfi. 
Hari menjelang petang, mulai sering berpapasan dengan para petani yang mengangkut hasil tani mereka. Ban motor tuannya menggunakan.  Memperparah jalan tanah yang sudah rusak parah.  Walaupun sudah kali keempat melewati jalur ini.  Ada istilah malu bertanya sesat di jalan. Untuk meyakinkan arah yang benar ke kawah Papandayan, kamipun bertanya kepada mereka.  Lucunya, setiap petani yang ditanya. Memberikan jawaban dan saran yang berbeda!  Akhirnya, runtuhlah sudah pepatah tersebut. Malah berbalik menjadi, banyak bertanya sesat di jalan! Hampir satu jam berputar-putar di tengah perkebunan teh.  Waktu sudah menunjukkan pukul 14.45.  Jalan utama di punggungan Papandayan belum ditemukan juga. 15 menit lagi tidak ditemukan, dipastikan balik kanan!


Diselamatkan Pohon Mati
Pada saat kritis, dan kebingungan seperti itu.  Untunglah terlihat di jalur setapak. Di punggungan gunung, bayangan “seorang pengendara” motor.  Remang-remang terhalang kabut. Kamipun potong kompas, memaksakan diri mendaki perbukitan dimana “motor” itu terparkir.  Ternyata pandangan keliru tidak selamanya menyesatkan.  Pengendara motor yang terlihat dari bawah, setelah didekati ternyata hanya seonggok pangkal pohon yang sudah mati.  Untungnya, jalan yang “ditunjukkan” oleh pohon itu adalah jalan yang biasa dilalui untuk tiba di kawah Papandayan.  Ternyata sekarang, jalur setapak sudah hancur oleh motor! Dalam sekali.  Terpaksa mengambil jalur ke kiri atau ke kanan, bahkan terpaksa ambil posisi mengangkang sekaligus mendorong sepeda! Pilihan posisi  yang buruk diantara yang terburuk. Sangat meletihkan dan menguras tenaga.  Licin, dan seringkali terperosok.
Makin ke puncak punggungan bukit. Jalan setapak yang dulu, paling digilai oleh para pesepeda dari Bandung untuk meluncur sampai ke Cibutarua itu sudah seperti selokan!  Memanjang dari puncak bukit sampai ke bawah. Berlanjut sampai ke perkebunan palawija dan gubug-gubug para petani biasa menunggui kebunnya.  Praktis, sepeda sudah tidak bisa digowes. Bahkan, untuk mendorong ke atas, posisi mengangkang dengang mendorong sepeda terus menerus harus dilakukan. Menguras tenaga, pikiran dan mental.  Selain, rusak parah. Tanah yang tertimpa hujan, menjadi licin. Menjadikan langkah kaki, diayun satu demi satu. Plus kabut tebal dengan batas jarak pandang paling 5 – 10 meter saja.
Setelah bersusah payah berjuang, yang menghabiskan energi dan meruntuhkan mental. Jalan utama yang berupa makadam akhirnya ditemukan.  Jam menunjukkan 17.15.  Jalan berbatu menuju Lawang Angin yang tiga tahun lalu masih bisa didaki dengan digowes. Saat itu tidak berbentuk. Hanya berupa aliran air dengan kondisi batu lepas.  Sepeda terpaksa didorong terus di tengah hujan deras sampai kurang lebih 15 menit kemudian tiba di jalan yang gowesable.
Tiba di Lawang Angin (Ghober Hut) yang merupakan gerbang Papandayan dari arah Pangalengan pukul  18.05. Gelap dan berkabut tebal!  Berhenti di sebuah warung tempat para pendaki ngaso.  Berganti pakaian dan memasang senter.  Setelah beristirahat sebentar. Setelah berdoa bersama, kembali sepeda harus didorong. Sepeda yang pada siang hari, dari Lawang Angin bisa ditunggangi ala kuda binal.  Malam itu mah boro-boro.  Memasuki “lorong” sempit hutan cantigi yang menurun, beberapa kali beberapa kali terperosok ke dalam lubang atau terpeleset dan jatuh. Situasi kondisinya sangat mencekam, karena tangan dan kaki sudah tidak mau berkoodinasi dengan otak karena kelelahan. Di sisi lain kudu menuruni jalan berbatu yang terjal.

Melewati lembah terakhir, sebelum kawah. Mengucap puji syukur Alhamdulillah.  Karena walaupun malam dan berkabut. Masih terbantu dengan putihnya asap dari kawah.  Membantu arah yang dituju.  Pukul 18.45 akhirnya tiba di pelataran Kawah Papandayan.  Berupaya mengambil foto sebagai barang bukti dengan cahaya seadanya dari senter.  Setelah itu meluncur, melewati tangga demi tangga yang belakangan dibuat oleh pengelola swasta di Papandayan.  Setelah itu langsung meluncur ke Garut dan tiba pukul 21.35.  Total jarak yang ditempuh lebih kurang 93,7 km dengan jarak tempuh hampir 16 jam.

Thursday, March 23, 2017

Ada Raisa di Santosa

Sanggeus amitan ka Bunda Mien jeung tante Ani Rohaeni. Belenyeng ka arah perkebunan entéh Santosa. “Nanjak kénéh wae jalan téh eung!” Ceuk Mang Juli. “Nya wajar wé atuh. Papandayan ngaranna ogé gunung, nya wajar ari nanjak mah" Mang Yudi mairan.
Bari guntreng ngobrol sajeroning nanjak. Ngan aya nu unik, dina sajeroning ngaboseh. Loba motor mani pasuliwer. Nu naékna barudak kolot.
Budak awewe, budak lalaki. Kitu deui di sisi jalan, meni aruplek ngarobrol aya nu paduduaan awewe lalaki, budak ngora mah angot. Teu eleh ku budak ngora aya oge bapak ema paduduan keur murak timbel handapeun tangkal.
Enya, teu bakal kitu kumaha.
Endahna kaayaan kebon teh, hejo ngemploh jiga karpet. Upluk-aplak, satungtung deuleu kebon teh. Katambah ku langit anu bengras. Bulao, dipulas ipis haseup bodas. Angin ngagiliwir. Nyecep tiis, tapi teu matak tiris. Gunung wayang, ngajega bangun nu ngabageakeun sakur nu arulin didinya. Ampir sarua jalma anu ngadon areureun, ngadon popotoan teu aya kawareg. Jadi inget kanu keur di Cisanti anu can pernah ka kebon teh Santosa. Mana teuing bakal pating kalecrek, bari maca tasbeh. Boa maranehna mah ti Cisanti teh kadon langsung mulang langsung ka Bandung. Teu arulin heula ka syurga dunia Santosa.
Leuwih kurang satengah jam ngaboseh. Bras ka pabrik the Kertasarie. Lamun geus nepi dieu. Kuring sok langsung ras ka Raisa anu Terjebak Nostalgia. Teu kitu kumaha di pabrik teh Kertasarie kabeh wangunan masih asli, titinggal Walanda. Aya hiji dua anu kentengna anu diganti ku seng. Tapi 95% masih asli wangunan baheula. Jadi inget kana foto-foto Garut zaman Walanda. Asa balik ka alam tukang. Nostalgia, kabayang baheula noni-noni jeung tuan afdeling keur ngontrol nu keur maretik enteh.
Nepi ka pertiluan Pabrik enteh, bedeng, jeung jalan ka sedepkeun. Popotoan deyi wae. Da asa lebar mun teu diabadikeun. Iraha teuing bakal kadieu deui. Da ari make mobil. Sangeuk ku barabena. Nya macet, nya banjir. Ari make motor sanggeuk di Puncak Caena, jalan jiga paranti ibak bagong. Ari make sapedah deui paling tilu taun sakali. Eta ge can tangtu.
Teu karasa cape najan jalan nanjak oge ari bari dihibur ku alam anu sakitu geulisna mah. Teu karasa. Geus ampir sajam, kira wanci tengah poe. Nepi ka Pertigaan Sedep – Bandung-Pangalengan. Geus teu barireuk deui jiga nu dikomando. Sup arasup ka warung sangu. Langganan tiap ngaboseh kadinya. Tukang warungna geus teu bireuk deuih. Sagala diasongkeun kadaharan kampung mah salian ti jajanan nu aya di warung. Bari teu eureun, ngadongeng naon bae. “Tah nu kieu disebut kearifan lokal teh. Cirining urang Sunda asli. Darehdeh someah ka sasama!” harewos kuring ka babaturan.
Rengse ngawadang. Gebret hujan. Geua kaluar ti warung oge. Kapaksa ngariuhan deui. Nungguan raat. Bari silih eledan. Di warung teh aya ceungceuman, wanoja geulis canperenik. Beungeutna jeung kulitna jiga Indo. Maklum di perkebunan tea. Sok seueur nyai-nyai, anu ditikah ku tuan afdeling. Menir tea! Kulitna bodaa semu bule. Irung mancungna, bulu matana lentik, halisna hideung meles jiga halis Andi Mariem tea ning. Ah, pokona mah… SEMPURNA, ceuk si Demian tukang sulap mah. Ngaaaaan, hanjakal ceuk indungna eta wanoja tos orokan ayeuna mah!

Santosa
12 Maret 2017

Dess



Ngabully Kabully


Poẻ  Minggu kamari mah,indit sasapẻdahan tẻh sorangan waẻ . Rinẻh.   Teu saged jiga biasana.  Ukur makẻ  sendal gunung, pakẻan saayana.  Teu makẻ  jẻrsẻ y anu biasa sok dipakẻ sasapẻdahan.  Nepi ka jalan persimpangan hiji komplẻks. Katinggali  aya duaan nu ngabosẻh karak kaluar ti komplẻk perumahan.  Kuring ngajak seuri, bari ngahalow.  Anu duaan ukur mẻsem.  Teu malirẻ, jongjon neruskeun ngabosẻh ka arah Bayongbongkeun.

Reg, kuring eureun heula.   Ngadon menerkeun jok, da karasa luhur teuing.  Nu duaan geus nyemprung aya kana 500an mẻtẻr.  Sanggeus menerkeun. Jok, buru pedal dibosẻh deui.  Hayang nyusul kanu duaan.  Teu lila, anu duaan kasusul.  Bosẻh suku dilaunan.  Alon-alon nuturkeun ditukangeun maranẻhannana.  Dina palebah pertigaan Munjul, anu ka arah Ngamplang.  Anu duaan tẻh bet marẻngkol ka kẻnca.  Ka Arah Ngamplang.  Tadina mah, niat ti imah rẻk ka Batu Tumpang, Cikajang.   Duka kunaon, si setang kalah nurutan milu nuturkeun mẻngkol ka kẻnca.

Dina palebah pengkolan anu rẻk ka Bebedahan anu duaan marengkol.  Tadina mah, kuring rẻk ka Ngamplang wẻ.  Da awak leuseuh kẻnẻh, rariged bati poẻ Saptu kamari kacegat macẻt di Rancaẻkẻk aya kana tilu jamna.  Kacegat banjir di hareupeun Kahatẻx.  “Pa, hayu ngiring wẻ ka dieu!”, ceuk nu saurang ngajakan.  Bari semu ngoa. Kareret ku juru panon silih kiceupan jeung baturna.  Beg, hatẻ mentegeg.  “Moal nanaon kitu, abdi mah da ẻnggalan ngabosẻhna ogẻ.  Nanjak henteu jalan ka palih dinya?” Kuring ngajawab, papaẻhan.  Sapedah anu geus lempeng ka arah Ngamplang tẻh dierẻm.  Diputerkeun nuturkeun nuduaan.  Geus cop wẻ dina hatẻ.  Ieu nu dua rek ngabully.  Jorojoy hatẻ bet mẻrẻan, hayang ngigelan.  Nepi kamana rẻk ngabully-na.  Atuh lamun enya, ripuh mah nya balik deui ka imah!

Jalan beuki nanjak.  Katinggali anu duaan ngos-ngosan.   Bari patingjorowok: “Huuuh! Haaah!” Mariceun nafas jigana.  Kuring angger nuturkeun di tukang, teu nyuara nanaon.  Bari teu kuat hayang seuri.  Can ngẻsang-ngẻsang acan.  Boro-boro ka hah hẻh hoh, saenyana.  “Dupi ieu jalan terasna kamana?” Kuring nanya pura-pura belegug.  “Ieu, aya dua jalan anu ka kenca engke brasna ka Ngamplang.  Mapay-mapay irigasi. Anu ka katuhu ka Penembong tiasa teras ka Genteng, Cilawu oge.   Anu duaan nerangkeun, bari ngos-ngosan nafasna. Silih haminan.  “Raos jalan kadieu mah.  Rata, aya tanjakan ieu sakedik!” Cenah. “Oh, kitu?  Kiat moal nya abdi? Upami kinten-kinten tebih, sareng nanjak teras mah badẻ uih deui!”  Kuring beuki papaẻhan.

Tanjakan beuki netek. Borobot-borobot... sora gear (gigi) tukang dioperkeun kunu duaan.  Tina cara ngoperkeun gigi, anu boborobotan tos kabaca kamampuan maranẻhna. Da anu geus biasa mah, moal nepi ka boborobotan lamun ngoper gigi.  Dina palebah tanjakan anu netek pisan anu mangrupa taneuh leutak.  Sorodot, anu hiji. Banna nyorodot.  Ampir labuh. Untung sempet ngagajleng.  Katinggali geus teu kontrol, antara suku jeung leungeun.  Beungeut beureum.  Napasna hiji-hiji.  Sapẻdahna satengah dibeubeutkeun, digolẻrkeun.  “Pa lirẻn heula didieu.  Urang ngaroko heula!” Ceuk nu saurang.  Kuring nurut.  Reg eureun.  Nyarandekeun sapedah lalaunan.  Dina hatẻ mah protẻs.  Da karak ogẻ rek ngẻsang.  Kalah eureun.  “Mangga, ngiringan waẻ!” Ceuk kuring.

“Nepangkeun, abdi Deny!”, ceuk kuring ngasongkeun leungeun.  Nu duaan, nampanan bari nyebutkeun ngaranna masing-masing.  Nu hiji ngaranna Muhidin. Nu hiji deui Jana.  Mareujeuhna buta tulang buta daging duanana ogẻ.  Paling 25 taunan.  Bẻda saeutik jeung kuring ngan pẻdah tibalik angkana!

“Group abdi mah upami ngagowes tẻh jiga kieu tah Pa! Resep kanu nanjak!  Ka gunung, kukurusukan.  Malah bari mamanggul sapẻdah, upami kaleresan jalan buntu teh! Sagarut mah, tos kapapay sadayana!”  Muhidin nerangkeun.  “Uluh? Sok aruih tabuh sabaraha atuh?”  Tanya kuring, pura-pura olohok. “Nya kadang tabuh opat sonten.  Malah dugi tabuh lima ogẻ pernah!”  Jana, ngajawab. Bangun nu reueus  pisan.  “Beuh... meni lami-lami teuing nya.  Jigana tarebih pisan  unggal ngabosẻhna!” Waler kuring.  “Puguh kitu Pa.  Kantos group abdi mah ti Cirorẻk teh diteraskeun ka Gunung Satria kaluar-kaluar ti Citengẻk! Kusabab uihna mah nanjak ka Garutkeun mah.  Dugi ka nyegat treuk. Diloding wẻ sapẻdah dugi ka Garut!”  Ceuk Muhidin deui.  “Walah, kabayang capẻna nya?!” ceuk kuring deui beuki dẻdepẻan.  Padahal, dina hatẻ mah hayang seuri.  “Dupi Bapa, sok ngabosẻh kamana waẻ?!” Jana nanya. “Ah, abdi mah paling tebih ogẻ ka Situ Bagendit.  Kantos ka Situ Cangkuang tapi teu dugi.  Teu kiat!”  Jawab kuring.   Dina hatẻ mah bari seuri.  “Taaah, group abdi mah.  Kantos ka Lẻlẻs. Dikurilingkeun ka Sarkanjut.  Teras ditembuskeun ka Bagendit.  Kirang langkung 40 kilometer.  Da kaleresan Pa Budi rẻrẻncangan mah, nganggo sepidometer sapẻdahna!”  Jana ngadongẻng bari beuki  agul.  “Ih, uyuhan meni tebih kitu nya!  Abdi mah mending uih deui wẻ ari kitu teuing mah. Moal kiat jigana!” ceuk kuring beuki nanggap!

Bẻrẻs istirahat tanjakan, anu asalna taneuh.  Robah jadi beton disambung ku  jalan batu anu tarahal.  Beuki nanjak, beuki sepi.  Kebon awi anu kaliliwatan, diganti ku kebon palawija sabangsaning cabẻ, wortel, kentang, jeung bako.  “Tebih kẻnẻh ieu tẻh nanjakna?”  Meni teu sẻẻp-sẻẻp nya tanjakan tẻh!”  Kuring nanya deui, bari alon ngabosẻh. “Ke dipayun langkung netek Pa! Hẻmat tanaga wẻ!” Ceuk Jana bari napasna ngos-ngosan.  Teu ngajawab deui.  Duanana ngungkug.  Tanjakan beuki gurawil.  Ngan nu duaan katinggali ngabosehna beuki laun. Beuki ugil-ugilan Akhirna kusabab beak tanaga.   Reg areureun.  Jrut turun tina sapẻdahna.  Tarungkul, bari leuseuh kacida jigana.  Jiga badami, duana sarua leungeun kẻnca nyekelan setang. Anu katuhu nyekelan sadẻl.   Awakna semu nonggeng. Sirahna tarungkul sajajar jeung sadel.  Ngararasakeun kacapẻ anu nataku pisan.  Cai dina bidon (botol) nu maranẻhna geus bẻak.   “Mangga tipayun Pa!” Duanana mẻrẻan jalan.  “Ah, mangga wẻ.  Teu terang jalan abdi mah!” Kuring nolak. Srog-srog, nu duaan sukuna dilengkahkeun hiji-hiji. Satengah digusur.  Bari ngadodorong sapẻdah dina tanjakan.

Nepi ka desa Pasir Kiang.  Jalan beuki muncugug.  Jaba batuna leupas, tarahal pisan.  Anu duaan, geus ripuh pisan. Sapedahna didarorong jiga nu baralap.  Meus-meus eureun. Bari mencrong ka tukang, ningali ka kuring anu anger ngabosẻh lalaunan.  Teu ditungtun jiga maranehna.  Kusabab kesel jeung kagok tanaga katahan. Lila teuing, nunutur anu ngaggusur sapedahna.  Katompẻrnakeun.   Belenyeng wẻh, nu duaan tẻh disusul. Bari pupuntenan, badẻ nyobian tanjakan manawi lulus, cẻkeẻg tẻh.   Nepi kana jalan anu rada datar.  Reg eureun, bari istirahat.  Da nyaan lain lumayan tanjakan tẻh. Ninggali ka tukang.  Nu duaan teu katinggali jirim-jirimna acan.  Aya kana 20 menitna, kakarak jul jol.  Bari rarumahuh.  Raripuh pisan.  Bru! Muhidin malah meni ngagoler. Ngabeubeutkeun awakna sorangan.  Ngajoprak, nangkarak handapeun tangkal Eucaliptus.  “Lirẻn heula didieu Pa! Istirahat! Hoyong sabatang heula!”, ceuk Jana.  Kuring teu kuat nahan piseurieun.  Teu ngajawab.  Beretek lumpat muru ka nu suni. Key... ngahkey. Seuri  sorangan! 


Cikuray, 19 Maret 2017


Dess

Friday, March 10, 2017

Binatang M

Beberapa waktu lalu, kita dihebohkan dengan peristiwa penyebutan nama-nama ikan yang sempat jadi viral. Karena salah sebut ikan tongkol. Kemudian muncul pula nama ikan indosiar. Entah gugup atau panik, satu fakta ditemukan bahwa kedua peristiwa kedua calon penerima hadiah sepeda seperti kebingungan menjawab nama-nama ikan. Padahal salah atau benar jawabannya. Mereka pasti tetap akan mendapatkan hadiah sepeda.
Pada saat membahas materi keanekaragaman hewan. Seorang guru meminta setiap siswa menyebutkan hewan sebanyak-banyaknya yang awalnya huruf M! Berbeda dengan peristiwa di atas. Mungkin karena tidak gugup dan tidak dijanjikan hadiah apa-apa.
Dengan lantang satu demi satu paara siswa menjawab, sambil berteriak dan mengacungkan tangan setinggi mungkin!
A : Musaaaang!
B : Merpatiiiii!!
C : Murai!!!!
D : Makareeeel!
E : Mas! Ikan Maaaaas!
F : Mujaiiiiiiir!
G : Merpatiiiiii!
H : Mirkaaaaaat!
I : Marliiiiin! Ikan Marliiiiiin!
J : Marmuuuuuut! (Mulutnya monyong)
K : Maleooooooo! Burung maleoooooo!!!!
L : Manyung! Ikan manyuuung! (Monyong juga)
M: Monyeeeeeet! Bapak monyeeeeeettt!
Monyeeeeettt Bapaaaaaakkkk!!! Bapak
monyeeeeeettt! Bapak monyeeeeeettt!!!


Friday, February 10, 2017

Cocoba

by: DESS

Babaturan kuring, sebut wae ngaranna mang Ayi.
Kuat pisan dina ghirah agamana. Lamun aya pangajian dimana wae anu sakira masih keneh bisa dijugjug mah pasti datang. Tara ieuh mikiran mentrangna panon poe atawa hujan, beurang atawa peuting dalah subuh wae diudag ku mang Ayi mah.Estuning salut pisan kuring ge kana semangat jihana. Jiga basa sholat Subuh berjamaah tanggal 12 Desember di Gasibu. Ngahajakeun manehna indit peuting-peuting ti Garut. Sakalian hayang milu ta'ziahna Aa Gym cenah. Nepi jam hiji peuting, teu ieuh peureum. Langsung sholat tahajud, jeung jamaah lainna anu harita oge sarua geus haladir ti suklakna ti siklukna.

Rengse sholat Subuh berjamaah, disusul ku  ta'ziah ku para ulama. Mang Ayi ngaregepkeun kalawan daria pisan. Malah, milu ceurik basa Aa Gym mere tauziah mah. Nyegruk...  Kusabab niatna oge milu sholat Subuh berjamaah jeung ta'ziah, jeung kudu ngurusan dagangan jongkona, kaki lima di Ciledug Garut. Mang Ayi langsung mulang. Manusa teu ngahayang-hayang, takdir teu bisa  dipungkir. Sakabeh mahluk keuna ku takdir jeung kodar tinu Maha Kawasa. Harita mang Ayi clak kana motor, titingaliannana bet paraoek. Teu bisa ningali nanaon. Panik, nelepon pamajikana, yen manehna jadi teu bisa ningali. Pamajikanna kalah milu panik, ngajerit kadenge ku manehna. Les...jigana pamajikannana pingsang. Kesang tiis morolok saawak-awak. Mang Ayi, nyegruk. Istigfar teu eureun...naha Gusti bet moekeun titingalian abdi? Kirang kumaha abdi ibadah ka Gusti... Cocobi naon anu kedah ditandangan ku abdi teh Gusti? Cimata Mang Ayi murubut, buru-buru rek nyusut cimata. Mang Ayi lalaunan ngusap cimata.

Subhanallah, Allah moal mere cocoba, naon anu moal bisa ditandangan ku umatna. Sing horeng teu aya nanaon. Teu aya masalah nanaon, ngan Mang Ayi poho make helemna tibalik!
#16122016
DESS





Disleksia jeung Ampir Autis

ku: DESS
Fera Faridatul Habibah, nenehna, Fera bae. Budak kuring anu katilu. Fera teh dicokot tina kecap costa fera anu hartina tulang iga (kuduna mah vera, tapi kusabab nyieun akte anu ngetik salah jadi Fera). Teu jauh umurna jeung si Cikal, ukur beda 2 taun. Dina waktu lahir mah normal teu aya gangguan nanaon. Lungsur langsar. Kitu deui dina perkembangan fisiologis jeung anatomis katut psikomotor mah kaitung gancang. Beda tinu lian.
Kasalempang, mimiti datang basa Fera umur 3 taun. Can bisa ngomong. Ukur "tca-tca-tca....". Boh keur ambek, keur ngobrol atawa diheureuyan ukur "tja-tja-tjca....". Melang estuning melang. Neangan dina buku jeung nanya ka Abah Google kumaha carana sangkan cageur. Teu aya obatna anu pasti. Melang, nya melang pisan harita kumaha kudu diubaran. Ngumaha ka akina. Nya harita dibere kueh mari anu ditulisan make mangsi beureum tina japaron, duka tulisan naon dan hurup arab gundul.
Saminggu ti dibere, syareatna tina kueh mari hakekatna pitulung tinu murbeng alam. Alhamdulillah, budak teh, bisa nyebut, Ayaaah, Ibbbu, Aaaa... ukur kitu jeung kitu we. Cipanon jeung indungna meni murubut bakat ku atoh. Akhirna mah hantem, diajak ngobrol, diajarkeun sagala anu aya dihareupeunnana disebutan. Timimiti kecap, mamam, eueut, bobo, gelas, cangkir, sendok jste. Alhamdulillah budak teh lancar pisan. Gancang nurutan. Kadituna mah normal weh, ngan ari ngecapkeun hiji kecap sok aya we salahna teh.
Umur 5 taun kusabab pindah ka Banten, anu bahasana arapal meureun. Nya akhirna mah kudu make bahasa Indonesia. Da sieun kapangaruhan. Nepi ka umur 7 taun, nyebut kelelawar, jadi kewewawar, mentega jadi mene'ga, air jadi ari, baju jadi buja. Pokona sababaraha kecap jadi sok tibaralik. Sakapeung hayang seuri, da lucu. Sakapeung hariwang. Nya lalaunan lamun, manehna salah ngucapkeun kecap sok dititiah ngawulang lalaunan. Nepi ka benerna.
Ampir Autis.
Asup sakola SD dina ngamimitian mah normal. Taya gangguan nanaon. Estuning lancar, boh diajar ngitung, diajar nulis, diajar maca. Ngan kabehdieunakeun budak teh bet jadi cicingeun. Guruna nepi ka datang ka saung majar, ieu putra kedah dikumahakeun. Calikeun pisan. Batur mah narulis, maraca, ngaritung. Tuang putra mah kalah ngaguntingan kertas, atanapi nyoehan buku dugi ka lalembut pisan. Teu malire ka rerencangan atawan ka guruna.
Kuring jeung indungna lain, teu merhatikeun. Ti saprak sakola, budak teh kalah sok nyileungleum di kamerna. Tara kaluar. Ari diintip kasampak, kamar teh pinuh ku guntingan kertas jeung baju!
Jawaban harita ka guruna. Muhun, matakna disakolakeun oge supados pinter. Mangga nyanggakeun bade dikumahakeun oge.
Tapi sabenerna kuring jeung indungna teu cicing. Budak diintip, naon karesepna. Ulin jeung karesepna ngaguntingan naon wae. Ka halis-halis jeung buukna digunting beak sabeulah! Matak paur. Matak ringrang. Matak hariwang. Tara ngomong, tara nyarita. Mingkem we. Cicingeun. Estuning balem. Lamun aya kahayang atawa kanyeri ukur cirambay euweuh soraan.
Keur ngarahkeun bakatna kana gugunting, dibere kertas lipat berwarna. Kumanehna diguntingan dijieun mamanukan, babajuan, bubukuan jste. Anteng pisan, tara kaluar. Sanggeus kitu dibere kertas gambar jeung krayon. Hantem ngagutrut teu eureun-eureun ngagambar naon wae bari jeung teu puguh bentuk. Lalaunan diajarkeun maca quran ku indungna. Bisa tur daek pisan. Akhirna, tiap bada sholat manehna maca Quran, anu diteruskeun ku guguntingan jeung gagambaran. Ti saprak maca Quran, jadi daek ngobrol. Daek seuri. Daek barang penta itu ieu. Komunikasi lancar deui.
Ngan, lamun nyarita jadi capetang pisan. Hese dieureunkeun. Euweuh titik, euweuh koma. Kadang diselang ku aa eueu... jiga Habibie ari nyarita. Pedah naon anu rek diomongkeun jiga pinuh dina pikiran metet. Hese dikaluarkeun.
.........................................................
Cikeneh, manehna karak jol ti Bandung da keur kuliah S-2 di Kimia di Institut Gajah Diuk. Teu karasa waktu meni asa nyerelek. Budak teh geus jadi dosen. Asa cikeneh manehna ukur bisa nyebut "tja...tja....tja..." bari halis jeung buuk beak sabeulah diguntingan. Alhamdulillah, nuhun Gusti....! Teu karasa mata bet jadi baseuh!
12212016