Tuesday, April 11, 2017

Melintas Batas Garut-Pangalengan-Papandayan

Oleh: Deny Suwarja


Satu demi satu langkah, sepeda didorong dengan sisa tenaga yang benar-benar nyaris sudah habis. Dihantui kabut yang mengejar di lembah, hati makin ketar-ketir saat terdengar deru desah angin yang bertiup kencang. Beberapa kali langkah kaki terperosok ke dalam jalan yang berubah menjadi lubang dalam memanjang. Lebih dari tiga jam menapaki  punggung Gunung Papandayan. Waktu menunjukkan pukul 16.35 masih terjebak di hutan.  Hujan turun, kabut makin menebal, siap menerkam dengan jarak pandang kurang lebih hanya 5 meter. Garmin sesekali dilihat, untuk memastikan arah jalan yang benar. Sementara malam segera menjelang, membuat perasaan makin mencekam...
KGC Garut Mountaibike pada 12 Maret 2017, Hari Minggu kemarin memilih gowes adventure melalui rute Gunung Darajat-Puncak Cae-Cibeureum-Cisanti.  Jarak yang ditempuh menurut Garmin 93,7 km.    Perjalanan dimulai pukul 08.50 dari Gunung Gagak, Darajat.  Diawali turunan aspal hotmix sekitar 2 km yang berakhir di jalan tanah rusak cukup berat. Drastis. Jalan berubah jadi tanah yang becek. Licin, nyaris tidak bisa dilewati sepeda. Kondisi makin diperparah dengan tanjakan pendek tapi cukup curam.  Terpaksa sepeda dirayu untuk mau didorong.
Pukul 09.20 tiba di Puncak Cae, dijamu alam dengan pemandangan Bandung Selatan yang super cantik. Biru langit dengan usapan awan putih tipis, menambah kecantikan alam pagi itu. Nun jaun di bawah sana, bukit-bukit kecil yang dulu hijaunya barisan tanaman palawija. Tidak tahan melihat kecantikan sang bumi pertiwi.  Menyempatkan diri, untuk mengabadikan keindahan alam tersebut. Sejauh mata memandang, terbentang lukisan alam hijau ranaunya perbukitan.
Perjalanan dilanjut dengan melahap turunan curam tanah merah. Jalan walaupun lebar tapi karena banyaknya “pematang” dan “selokan” alami yang dibuat aliran air. Menjadikan kudu waspada, diperlukan kontrol  kemudi agar tidak terperosok. Beberapa kali berpapasan dengan para pengendara motor dari arah bawah, yerpaksa harus mendorong motornya dengan walaupun dihidupkan.  Turunan jalur tanah merah habis lebih kurang 2 km. Berganti dengan turunan beton di tengah perkampungan.  Sepeda bisa dipacu cukup kencang.  Dibarengi awasnya mata karena banyaknya anak-anak di sepanjang kampung yang dilewati.  Turunan yang relatif mulus sejauh 5 km, berakhir di sebuah jembatan kecil.  Tanjakan Darangdan, menghadang dengan penampilan bengis. Kecuramannya membuat hati ciut.    Mengingat perjalanan masih amat sangat jauh, untuk menghemat energi.  Kami berenam, lebih memilih untuk kembali menuntun sepeda. Kecuali Mang Ruhiat dan Mang Obang yang bisa khatam sampai di Jalan Raya Cibeureum!
Memulihkan stamina, di sebuah warung di pertigaan Cibeureum sambil minum kopi dan kudapan ringan.  Sepeda kembali dikayuh menikmat tanjakan relatif ringan berupa aspal hotmix mulus.  Cukup untuk hiburan setelah dihajar tanjakan Darangdan.  Sesekali berpapasan dengan rombongan sepeda Federal dan beberapa onroader yang dipastikan baru pulang dari Danau Cisanti yang berjarak 5 km dari pertigaan Cibeureum.
Mampir dan rehat di Situ Cisanti pukul 10.40. Membayar tiket Rp. 10.000 rupiah, sepeda bisa dibawa masuk ke dalam areal Situ.  Berfoto ria sepuasnya dengan background beningnya air Situ Cisanti dengan tulisan besar warna merah KM 0 CITARUM. Situ Cisanti seluas  7 hektare itu dikelilingi  perkebunan Talun Santosa, puncak Gunung Wayang, Windu, dan Gunung Rakutak. Udaranya dingin dan mudah berkabut. Di pagi hari, ketika matahari menyinari bagian tengah danau dan meninggalkan garis cahaya keemasan di rerumputan pinggir danau. Kabut tipis dan gulungan awan hitam memayungi hutan di punggung dan puncak gunung. 
Setelah puas menikmati keindahan dan keanggunan Situ Cisanti selama 20 menit. Rombongan balik kanan menuju perkebunan teh Kertasarie Santosa.
Ada Raisa di Santosa
Kawah Papandayan! Itulah yang mengingatkan kami untuk segera cabut dari Cisanti. Sepeda kembali dikayuh, mencumbu tanjakan landai nan panjang.  Tidak terasa melelahkan karena selain aspal hotmix mulus. Disepanjang jalan, mata dimanjakan  pemandangan yang super duper. Cantik! Secantik Raisa saat bersenandung lagu Terjebak Nostalgia. Benar-benar terjebak nostalgia. Saat melewati lautan permadani hijau, perkebunan teh Santosa.   Gunung Wayang, berselimut awan tipis yang menghiasi langit biru saat itu makin mempercantik dan keanggunan pesona perkebunan teh Santosa.  Terlebih tiba di pusat pabrik teh Kertasari. Tidak saja tubuh tiitup udara sejuk, tapi hati dan perasaan terasa seperti berbalik ke jaman penjajahan.   Semuanya, nyaris sempurna bernuansa semasa penjajahan Belanda.  Rumah-rumah eks Tuan Afdeling, masih dilestarikan di perkebunan nyaris belum berubah. Ciri khas bangunan  Eropa. Arsitektur gaya art Deco dengan tembok dinding putih tinggi, atap genting curam, dengan cerobong asap berdiri dengan anggunnya. 
Kaki kembali menginjak pedal, mencumbu jalan yang mulai sedikit berbatu. Tidak terlalu menyulitkan, karena rata-rata ban sepeda berukuran 2.35 sampai 2.50. Sekitar 2 kilometer kemudian. Tiba di warung nasi langganan di pertigaan Santosa-Sedep-Bandung. Kali ketiga  makan di warung nasi ini. Lumayan lengkap dan cukup untuk lidah orang Sunda. Ibu warung sudah mafhum dengan pesepeda.   Saat tiba, dengan raah dia mempersilakan untuk makan parasmanan. Bahkan, membekali kami dengan teh Santosa!
Pukul 12.30 saat akan menuju mesjid di bedeng Sedep. Tiba-tiba hujan cukup deras. Menepi, sambil berdoa agar hujan segera reda. Doa terkabulkan. Tidak sampai 10 menit hujan reda.  Energi yang sudah terisi, kembali memberikan semangat.  Semua berpacu menuju mesjid. Jalanan turun makadam ringan, lalu membelok dengan tanjakan di perbatasan Sedep. Dilahap tanpa omelan, berpacu menuju mesjid. Saat berwudhu, air yang menyentuh anggota wudhu seperti air es.  Wajah dan tubuh kembali terasa segar. Kemudia sholat berjamaah dijama taqdim Dhuhur dengan Asyar.
Perjalanan dilanjutkan menyusuri tanjakan demi tanjakan.  Jalan yang dilewati kondinya jauh berbeda, sewaktu kami melewatinya 3 tahun lalu. Sekarang nyaris semua rata dibeton. Mulus. Sehingga tanjakan yang panjang pun tidak lagi terasa melelahkan. Pemandangan tetap memikat, mata terus berputar menikmati pesona demi pesona yang ditampilkan lukisan alam.  Seorang teman kami bahkan berujar: “Seandainya ada yang menawar 10 juta sekalipun, pemandangan ini tidak akan saya jual!”
Kayuhan makin dipercepat saat mulai terlihat pertigaan Neglasari sebelum Cibutarua.  Suasananya jauh lebih “maju” dibanding tiga tahun lalu.  Terminal sederhana sudah mulai dibenahi. Lengkap dengan tukan tambal ban, warung nasi, warung baso dan warung kelontongan. Dari pertigaan ini jalan berubah menjadi makadam dan berakhir di monumen Cibutarua! Udara sejuk dan dingin, sepertinya membantu kondisi tubuh kami.  Tiba di warung terakhir, karena sesudahnya tidak ada warung lagi. Ranselpun dipenuhi dengan persediaan air dan kudapan ringan yang cukup banyak.  Mengingat tiga tahun lalu, di tengah hutan. Saking hausnya teman kami, sampai merelakan cincin batu yang dipakainya dengan sebotl air teh yang dibawa penyabit rumput!
Di warung sempat menjalin keakraban dengan anak-anak keluarga pemetik teh. Pakaian mereka masih sangat sederhana. Kusam, dekil bahkan sudah ada yang robek.  Kepala mereka tertutup peci hitam yang juga sudah pudar warnanya. Sarung dilendangkan pada masing-masing bahunya. Mereka berkerubung mengelilingi sepeda.  Sesekali menyentuhnya.  Sempat terjadi dialog menggelikan.  “Jang, pernah ka Papandayan teu?” Tanya saya.  “Pernah atuh, sering malahan. Deukeut atuh Pak teu sajam-sajam acan ka Papandayan mah!” jawab seorang anak.  “Hah? Nu bener? Naha, meni gancang euy!” Seru saya kaget. “Tuh tidieu oge katinggali atuh Papandayan mah!” Tunjuk seorang anak.  Kami jadi mesem-mesem sendiri. Ternyata yang dimaksud anak-anak itu kampung Papandayan. Bukan Kawah Papandayan! Kampung terakhir sebelum masuk ke perkebunan teh di punggung Papandayan!
Tanjakan makadam dengan batu-batu lepas di tengah perkebunan teh mulai memperlambat kayuhan. Bahkan, akhirnya dituntun karena tidak gowesable. Dua orang teman yang mencoba, memaksa gowes. Malah terpeleset dan terjatuh. Waktu menunjukkan pukul 14.50. Terlambat setengah jam untuk tiba di punggung gunung Papandayan! Kalkulasi rasional pun muncul di kepala. Bila sampai pukul 17 belum mencapai punggungan yang Papandayan.  Lebih baik putar balik.  Pulang lewat Bandung. Mengingat kabut tebal dan hujan yang bisa menjadi ancaman serius. 
Sepeda kembali dikayuh, menyusuri jalan khas perkebunan. Kiri kanan, tampak lubang dalam penuh air. Bekas dihajar ban truk yang membawa hasil palawija.  Praktis, harus mengambil jalan tengah. Itupun siswa tergerus oleh gardan mobil.  Kesejukan dan keindahan pesona perkebunan teh serta sejuknya udara, menambah semangat yang mulai memudar.  Untuk menambah semangat, sesekali berhenti mendokumentasikan pemandangan atau sekedar selfi. 
Hari menjelang petang, mulai sering berpapasan dengan para petani yang mengangkut hasil tani mereka. Ban motor tuannya menggunakan.  Memperparah jalan tanah yang sudah rusak parah.  Walaupun sudah kali keempat melewati jalur ini.  Ada istilah malu bertanya sesat di jalan. Untuk meyakinkan arah yang benar ke kawah Papandayan, kamipun bertanya kepada mereka.  Lucunya, setiap petani yang ditanya. Memberikan jawaban dan saran yang berbeda!  Akhirnya, runtuhlah sudah pepatah tersebut. Malah berbalik menjadi, banyak bertanya sesat di jalan! Hampir satu jam berputar-putar di tengah perkebunan teh.  Waktu sudah menunjukkan pukul 14.45.  Jalan utama di punggungan Papandayan belum ditemukan juga. 15 menit lagi tidak ditemukan, dipastikan balik kanan!


Diselamatkan Pohon Mati
Pada saat kritis, dan kebingungan seperti itu.  Untunglah terlihat di jalur setapak. Di punggungan gunung, bayangan “seorang pengendara” motor.  Remang-remang terhalang kabut. Kamipun potong kompas, memaksakan diri mendaki perbukitan dimana “motor” itu terparkir.  Ternyata pandangan keliru tidak selamanya menyesatkan.  Pengendara motor yang terlihat dari bawah, setelah didekati ternyata hanya seonggok pangkal pohon yang sudah mati.  Untungnya, jalan yang “ditunjukkan” oleh pohon itu adalah jalan yang biasa dilalui untuk tiba di kawah Papandayan.  Ternyata sekarang, jalur setapak sudah hancur oleh motor! Dalam sekali.  Terpaksa mengambil jalur ke kiri atau ke kanan, bahkan terpaksa ambil posisi mengangkang sekaligus mendorong sepeda! Pilihan posisi  yang buruk diantara yang terburuk. Sangat meletihkan dan menguras tenaga.  Licin, dan seringkali terperosok.
Makin ke puncak punggungan bukit. Jalan setapak yang dulu, paling digilai oleh para pesepeda dari Bandung untuk meluncur sampai ke Cibutarua itu sudah seperti selokan!  Memanjang dari puncak bukit sampai ke bawah. Berlanjut sampai ke perkebunan palawija dan gubug-gubug para petani biasa menunggui kebunnya.  Praktis, sepeda sudah tidak bisa digowes. Bahkan, untuk mendorong ke atas, posisi mengangkang dengang mendorong sepeda terus menerus harus dilakukan. Menguras tenaga, pikiran dan mental.  Selain, rusak parah. Tanah yang tertimpa hujan, menjadi licin. Menjadikan langkah kaki, diayun satu demi satu. Plus kabut tebal dengan batas jarak pandang paling 5 – 10 meter saja.
Setelah bersusah payah berjuang, yang menghabiskan energi dan meruntuhkan mental. Jalan utama yang berupa makadam akhirnya ditemukan.  Jam menunjukkan 17.15.  Jalan berbatu menuju Lawang Angin yang tiga tahun lalu masih bisa didaki dengan digowes. Saat itu tidak berbentuk. Hanya berupa aliran air dengan kondisi batu lepas.  Sepeda terpaksa didorong terus di tengah hujan deras sampai kurang lebih 15 menit kemudian tiba di jalan yang gowesable.
Tiba di Lawang Angin (Ghober Hut) yang merupakan gerbang Papandayan dari arah Pangalengan pukul  18.05. Gelap dan berkabut tebal!  Berhenti di sebuah warung tempat para pendaki ngaso.  Berganti pakaian dan memasang senter.  Setelah beristirahat sebentar. Setelah berdoa bersama, kembali sepeda harus didorong. Sepeda yang pada siang hari, dari Lawang Angin bisa ditunggangi ala kuda binal.  Malam itu mah boro-boro.  Memasuki “lorong” sempit hutan cantigi yang menurun, beberapa kali beberapa kali terperosok ke dalam lubang atau terpeleset dan jatuh. Situasi kondisinya sangat mencekam, karena tangan dan kaki sudah tidak mau berkoodinasi dengan otak karena kelelahan. Di sisi lain kudu menuruni jalan berbatu yang terjal.

Melewati lembah terakhir, sebelum kawah. Mengucap puji syukur Alhamdulillah.  Karena walaupun malam dan berkabut. Masih terbantu dengan putihnya asap dari kawah.  Membantu arah yang dituju.  Pukul 18.45 akhirnya tiba di pelataran Kawah Papandayan.  Berupaya mengambil foto sebagai barang bukti dengan cahaya seadanya dari senter.  Setelah itu meluncur, melewati tangga demi tangga yang belakangan dibuat oleh pengelola swasta di Papandayan.  Setelah itu langsung meluncur ke Garut dan tiba pukul 21.35.  Total jarak yang ditempuh lebih kurang 93,7 km dengan jarak tempuh hampir 16 jam.